Tugu Bukit Candika Bangkinang merupakan pusat acara Pekan Penghijauan Nasional ke-XX tahun 1980 yang diresmikan oleh presiden ke-2 Republik Indonesia yaitu Soeharto. Salah satu destinasi wisata alam Bangkinang ini dijadikan bumi perkemahan dan penanaman pohon pinus yang sekarang ini masih dapat kita rasakan ketika berkunjung ke Bangkinang. Tugu Bukit Candika Bangkinang ini sering disebut dengan nama “Batu Hitam” dikalangan masyarakat Bangkinang, karena tugu tersebut berbentuk batu dan memiliki warna yang hitam. Masyarakat Bangkinang dan sekitarnya sering berkunjung ke area tugu tersebut untuk menghabiskan waktu libur bersama keluarga atau bahkan bertamasya di area sekitar tugu yang masih terjaga keasriannya. Alamnya yang hijau dan masih terjaga keasriannya menjadi salah satu daya tarik supaya pengunjung tidak jenuh dan dapat dimanjakan dengan pemandangan melihat kota bangkinang dari atas bukit.
Pekan Penghijauan Nasional ke-20 yang berpusat di Bangkinang diresmikan pada tanggal 23 desember 1980 oleh presiden Soeharto. Acara ini dilakukan demi tercapainya program kerja presiden Soeharto yaitu Repelita. Melalui Gerakan Penghiauan yang dicanangkan sejak tahun 1961 itu telah banyak areal tanah kritis yang telah dihijaukan kembali di seluruh Indonesia. Selama Repelita I penghijauan dan reboisasi sudah dilakukan di atas areal seluas 510.324 hektar; areal ini meningkat dengan tajam selama Repelita II, yaitu 2.449.253 hektar. Dan dalam dua tahun pertama Repelita III ini usaha penghijauan dan reboisasi telah mencapai 1.899.195 hektar.
Dalam meresmikan Pekan Penghijauan Nasional ke-20 di Bangkinang, Presiden menyerukan kepada seluruh petani Indonesia agar ikut aktif dalam kegiatan penghijauan, karena pelestarian tanah dan air tidak lain adalah untuk kepentingan para petani sendiri. Kepada seluruh lapisan masyarakat diserukannya juga untuk ikut pula aktif dalam kegiatan penghijauan dalam lingkungan masing-masing, karena kegiatan ini merupakan kunci bagi keselamatan kita dan kunci bagi kebahagiaan anak cucu kita. Dalam amanatnya, Presiden juga mengingatkan pentingnya semua pihak memahami kegunaan dari berbagai tumbuhan dan satwa. Secara khusus dimintanya agar perlindungan terhadap satwa terlindung seperti gajah, harimau, badak dan lain-lain benar-benar dapat dilaksanakan. Pelanggaran terhadap perlindungan ini harus ditindak tegas. Menurut Presiden, gerakan penghijauan nasional ini merupakan salah satu ikhtiar untuk memberi isi pada usaha melestarikan keseimbangan kehidupan dalam lingkungan alam dengan mutu dan jumlah yang tak berkurang (Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983”, hal 370. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003).
Sejak dibangun dari tahun 1980 hingga sekarang, Tugu Bukit Candika Bangkinang masih terjaga dan terawatt. Namun, hanya saja masih terdapat beberapa goresan-goresan tangan-tangan jahil yang merusak tugu tersebut. Hendaknya pemerintah daerah Bangkinang lebih memperhatikan benda-benda peninggalan sejarah dan jangan membiarkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab merusak keaslian benda itu. Lingkungan disekitar tugu juga memiliki keindahan tersendiri, membuat orang-orang betah berlama-lama hanya sekedar untuk jalan-jalan bersama karib kerabat atau bahkan teman.

Nama : Eka Nurtiana
Nim : 1405118901
Kelompok 2 (Feature)

Sumber :
http://soeharto.co/1980-12-23-presiden-soeharto-resmikan-pekan-penghijauan-nasional-di-pekanbaru
– buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983”, hal 370. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Iklan