Pada tanggal 10 Januari 2016, tepat pukul 06.30 WIB kami telah berkumpul di mesjid Arfaunnas UR. Kami menunggu bus yang akan mengantar kami ke kampong senapelan, kami berkumpul bersama-sama di depan mesjid dan mengabadikannya dalam foto kami bersama.

Setelah bus yang kami tunggu datang, kami langsung berhambur masuk kedalam bus dan kami pun berangkat menuju Kampung Senapelan. Di dalam bus, kami bernyanyi bersama-sama dan tertawa bersama-sama. Dengan pergi menaiki bus kami merasakan kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang kuat. Berikut adalah bentuk kebersamaan kami didalam bus:

Setelah sampai di Kampung Senapelan sekitar pukuln 07.10 WIB kami berkunjung ke kedai Kimteng yang merupakan tujuan kami pertama dalam kunjungan ke kampung Bandar senapelan tersebut. disana kami disuguhkan kopi. Makna dari meminum kopi tersebut yaitu pada zaman dahulu masyarakat pekanbaru sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas mereka meminum kopi terlebih dahulu dan ini sudah menjadi kebudayaan ditengah masyarakat. berikut ini adalah sejarah kedai kopi yang ternal pada masa lalu dan masih bertahan saampai sekarang.

Setelah selesai minum kopi bersama barulah kami memulai penjelajahan di Kampung Bandar Senapelan. Awal perjalanan kami mulai menelusuri kampung dengan berjalan kaki . semangat pagi yang cerah mengantarkan langkah kaki kami ke rumah Tuan Jafar. Beliau merupakan tuan tanah di Pekanbaru pada zaman dahulu.

Foto diatas merupakan foto saat kebersamaan kami di depan rumah tuan Jafar. Rumah ini di bangun pada tahun 50-an, dan rumah H Jafar ini merupakan perkembangan atap kajang yang ada di tanah melayu. Setelah berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju surau Al-Irhaash. Surau Al-Irhaash tempat bersejarah yang selanjutnya kami kunjungi. Surau ini berada dijalan

Senapelan.

Foto ditengah adalah foto catatan sejarah yang tertempel dibagian luar surau. Ada cerita singkat soal sejarah surau serta foto surau sebelum direnovasi. Surau Al-Irhaash didirikan sekitar tahun 1925, dibangun di atas lahan yang diwakafkan oleh masyarakat Kampung Bukit. Pada zaman perang kemerdekaan surau difungsikan sebagai markas besar pejuang tentara Fisabilillah. Awalnya bangunan surau berbentuk segi empat. Setelah berfungsi sebagai tempat ibadah, ditambah ruang mihrab, tepatnya tahun 1970-an. Surau Al-Irhash resmi 21 September 2007 M / 9 Ramadhan 1428 H oleh walikota Pekanbaru Drs. H. Herman Abdullah, M.M., tipe atap limas.

Setelah berkunjung ke surau Al-Irhaas kami melanjutkan penjelajahan. Rute berikutnya yaitu melihat LAM (Lembaga Adat Melayu). Berikut gambarnya:

Setelah dari LAM, kami di ajak oleh bapak Elmustian untuk melihat salah satu rumah warga yang memakai atap limas kerucut yang tajam tetapi pengembangan model atap ini dibangun tahun 1940-an. Model atap seperti ini merupakan model atap limas Cina yang asli atap limas kajang. Jendela pada rumah ini dipakai ram yaitu model jendela zaman dulu. Model-model seperti ini harus dijadikan sebagai cagar budaya. Berikut gambarnya:

Perjalanan kami berlanjut menuju tempat bersejarah lainnya yaitu terminal lama kota Pekanbaru. Tepian sungai siak tempat dimana kami berdiri dulunya adalah terminal lama pintu kedatangan ke pekanbaru, kini terminal tersebut sudah musnah dan hanya menyisakan sebuah bangunan kecil yang dulunya digunakan sebagai Kursi tunggu bagi penumpang.. Letaknya tepat di bawah Jembatan Siak III. Situs terminal yang tersisa hanya dinding beratap dari batu. Dulu terminal ini berfungsi sebagai tempat prouksi pertaniaan untuk dibawa ke Singapore. Jembatan Siak III sendiri diresmikan pada 3 Desember 2011 dengan nama Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah oleh Gubernur Riau. Jembatan ini jadi penghubung wilayah Pekanbaru kota dengan Kecamatan Rumbai yang dibelah Sungai Siak. Jembatan Siak III berwarna kuning dengan panjang total 520 meter dan panjang bentang 170 meter.

Terminal lama kota Pekanbaru tak terawat. Lumut menempel di tiap bagian hingga menghitam, datas ini adalah foto Terminal lama kota Pekanbaru yang kami abadikan saat menjelajah. Peninggalan terminal mobil pertama di Pekanbaru dibangun sebelum kemerdekaan dan di renovasi tahun 1940-an.

Sekitar limapuluh meter dari terminal lama, ada bangunan tua dari kayu. Dindingnya dari papan bercat kuning beratap limas. Bangunannya berbentuk panggung dengan ukiran khas melayu. Lebih dari 14 tiang sebagai penyangga rumah. Rumah ini dibangun pada 23 Juli 1928, seperti tertera di tangga batunya.
Ini rumah singgah Tuan Qadhi H Zakaria. Ia seorang pimpinan yang mengelola tiga aspek pemerintahan pada masanya: pimpinan adat, pimpinan agama dan pimpinan sosial. Rumah ini terletak di pinggir Jalan Perdagangan di tepi Sungai Siak. Kediaman tetap Tuan Qadhi H Zakaria berada di Jalan Senapelan Gang Pinggir, tepat di belakang kompleks Masjid Raya Pekanbaru. Bangunannya bergaya Eropa klasik dicat putih. Amat kontras dengan rumah singgahnya yang berarsitektur khas Melayu. Berikut adalah rumahnya:

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju sebuah pelabuhan , dulunya dinamakan Pelabuhan Manggis, pelabuhan ini dulunya cukup ramai dan dijadikan pelabuhan pengangkut barang. Kini hanya tersisa sebuah papan yang berfungsi sebagai dermaga. Dulu pelabuhan ini dijadikan sebagai tempat bersilaturrahmi dan pusat ekonoomi.
Dipelabuhan ini zaman dahulu juga dijadikan sebagai tempat yang sakral, dimana sebelum acara akad nikah masyarakat kampung Senapelan melakukan proses cakap-cakap diair yang dilakukan dipelabuhan ini. Namun, sekarang semua hanya tinggal cerita saja karena pelabuhan yang terdapat di sungai siak ini sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Berikut gambarnya:

 

Tidak jauh dari Pelabuhan Manggis, dapat kita jumpai sebuah rumah Tua yang Tinggi, rumah ini sudah ada semenjak tahun 1886, rumah tua ini dulunya milik H Yahya.

  1. Yahya adalah seorang toke getah karet yang sukses . rumah ini berarsitektur Melayu Pesisir dan rumahnya cukup tinggi dan ini menandakan bahwa si pemilik rumah seorang yang kaya, seorang datuk, seorang penguasa ataupun seorang yang memiliki peranan penting baik ekonomi maupun pemerintahan. Pada awal kemerdekaan rumah ini pernah dijadikan gudang logistik dan dapur umum. Namun sekarang rumah ini dijadikan sebagai Rumah Tenun.

Selanjutnya adalah rumah penduduk yang menggunakan pengembangan atap limas, seperti yang terlihat pada gambar:

Perjalanan kami lanjutkan menuju Gudang Pelabuhan Pelindo I, disana kami menemukan sebuag batu persegi setinggi sekitar 70 Cm masih terlihat kokoh. Batu ini menjadi saksi bisu perkembangan Kota Pekanbaru. Di batu itu tertulis Pb. 0, Pad 313, Bkn 65 dan di bawahnya terdapat lambang PU. Tulisan tersebut bermakna Tugu tersebut merupakan Tugu 0km Kota Pekanbaru, dan dari Tugu tersebut Kota Bangkinang berjarak 65km dan Kota Padang berjarak 313km.

Beranjak dari tugu kami berjalan menuju bawah jembatan untuk melihat sungai sago, yaitu tertua disamping sungai Limau. Jalur orang ke darat untuk membawa hasil perkebunan. Berikut gambarnya:

Setelah dari sungai Sago, kami lanjut berjalan menuju rumah Sulaiman India. Rumah ini menggunakan atap limas dan rumah ini juga rumah surung dimotif 2 lantai. Model tangganya adalah kayu dan batu. Berikut gambarnya:

Kami pun melanjutkan perjalanan ke gedung tukang besi. Gedung ini dibangun pada tanggal 1940-50 gunanya adalah untuk membuat parang, penakit, perlengkapan pertanian dan perkakas. Berikut adalah gambarnya:

 

Perjalanan kami pun berlanjut menelusuri jalanan di Pekanbaru menuju jalan Jendral Sudirman dan dari bawah jembatan kami dapat melihat sungai limau. Pohon senapelan diseberang dan dipinggir sungai panjang ke jalan Ponogoro.

Setelah dari sungai limau kami beranjak menuju Losemen Pakanbaru. Tempat tersebut masih mempertahankan tulisan lama. Tempat ini merupakan salah satu pusat ngopi di pekanbaru. Tak jauh beberapa meter terdapat kantor RRI pertama di Pekanbaru.

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri akar rumput sejarah masa silam Pekanbaru. Sejarah telah mencatat pada abad ke-18 silam Bandar Senapelan pernah jadi ibukota Kerajaan Siak di tahun 1762-1766 semasa Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah (Sultan Siak IV) dan jadi ibukota Provinsi Negeri Pekanbaru Kerajaan Siak semasa Sultan Syarif Hasyim seperti yang tertuang dalam Pasal Delapan Bab al-Qawa’id (kitab UU Kerajaan Siak semasa Sultan Syarif Hasyim) tahun 1898. Artinya, cikal bakal Pekanbaru adalah di Kampung Bandar Senapelan, dibuktikan dengan adanya makam tokoh pendiri Pekanbaru. Makam Marhum Pekan pendiri Kota Pekanbaru menjadi tujuan kami berikutnya, dikomplek Makam marhum pekan kita juga dapat menjumpai makam lainnya seperti makam Marhum Bukit, Markum Barat dan makam kerabat, keluarga dan pengikut kerajaan Siak. Persis di sebelah Komplek Makam marhum pekan terdapat sebuah

Mesjid Tua yang bersejarah yaitu Masjid Raya Pekanbaru.
Diatas adalah gambar makan marhum pekan, gelar salah satu penguasa senapelan. Selanjutnya kami beranjak dari komplek Makam marhum Pekan dan Mesjid Raya pekanbaru, kami melanjutkan perjalanan menuju Rumah Tuan Kadi Kerajaan Siak yaitu Haji Zakaria yang berada di jalan Senapelan Gang Pinggir. Rumah ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Siak masa lalu. Rumah peninggalan Tuan Kadi Zakaria memang sudah direnovasi tapi tak mengubah bentuk asli bangunan, rumah ini terlihat megah dengan arsitektur Eropa masa lalu, konon rumah ini diarsiteki oleh arsitek yang membangun Istana Siak. Rumah ini dulunya menjadi pesanggrahan atau rumah persinggahan Sultan Syarif Kasim II ketika bertandang ke Pekanbaru,bahkan ada kamar khusus Sultan. Bahkan di rumah itu juga berbagai persoalan dan

strategi menata Bandar Senapelan selalu dibahas.

Rumah Tuan Kadi pemimpin agama, pada ahad pertengahan. Tempat penginapan sultan Siak. Rumah pribadi bukan dibangun pemerintah tahun 1929 kurang lebih sama dengan rumah singgah.

Ini adalah gambar ruang tamu raja:

Berikut adalah gambar

peninggalan kerajaan yang masih ada hingga sekarang.

Iklan