Judul puisi       :           Tragedi Sihka dan Winka

Pengarang       :           Sutardji Calzoum Bahri

Penerbit           :           Sinar Harapan

Halaman          :           133 halaman

 

PUISI berjudul “Tragedi Sihka dan Winka” merupakan salah satu karya Sutardji Calzoum Bahri yang cukup fenomenal. Puisi ini memiliki tipografi yang sangat berbeda dari kebanyakan puisi. Teknik persajakan dengan memotong-motong kata dan membalikkan suku kata seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya pada perpuisian di Indonesia modern sebelumnya. Ketidaklangsungan ekspresi sajak itu berupa kombinasi makna dan tipografi, yang perlu diterangkan lebih lanjut adalah tipografi (tata huruf) yang sejak tahun 1970 dalam perpuisian indonesia sampai sekarang menjadi mode di antara penyair muda, dipergunakan untuk menciptakan makna. Biasanya makna yang ingin diciptakan adalah makna ikon atau indek.

Pada puisi “Tragedi Winka dan Sihka” ini merupakan suatu peristiwa yang berakhir dengan kesedihan. Sedangkan makna sihka dan winka disini sebenarnya tidak mempunyai makna yang jelas hanya saja oleh penyair dua kata tersebut mempunyai arti atau makna. Pada puisi tersebut dapat dijumpai 3 tanda yaitu win, ka, sih. Seolah-olah tiga suku kata tersebut dapat membentuk dua kata benda diri yaitu winka dan sihka, serta keadaan yaitu kawin dan kasih. Kata kawin dan kasih mengandung arti konotasi yaitu perkawinan yang penuh dengan kebahagiaan dan disertai dengaan kasih sayang. Kata kawin ditulis 5 kali secara berturut-turut secara utuh tanpa dipotong atau di pisah member tanda/arti bahwa dalam periode yang entah itu 5 tahun, 5 bulan, 5 minggu atau bahkan 5 hari usia perkawinan masih berjalan dengan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kemudai kata kawin tersebut terputus-putus yang memberikan tanda/arti bahwa perkawinan sudah tidak utuh lagi karena mulai muncul masalah-masalah kehidupan yaitu tragedi-tragedi dan pertengkaran antara suami dan istri dimana mereka tidak lagi sejalan pemikirannya. Hal ini dapat dilihat dari gaya penulisan puisi yang tidak lagi menggunakan kata kawin secara bersamaan tetapi melainkan dipisah menjadi ka dan win saja. Begitu juga dengan kata kasih yang tidak lagi digunakan secara bersamaan namun sudah dipisah menjadi kata ka dan sih. Pada akhirnya tragedy sihka dan winka ini yaitu terjadinya perceraian, dimana suami dan istri hidup secara terpisah. Hal tersebut dapat dilihat pada akhir puisi tersebut yaitu kata ka disambung dengan ku menjadi kaku yang mempunyai makna hubungan antara suami dan istri menjadi kaku dan sudah hilang rasa.

Gaya penulisa atau tipografi puisi Tragedi Winka dan Sihka disusun secara zigzag membuat puisi tersebut tampak berbeda. Justru bentuk yang berbeda inilah membawa nilai estetik karena penyair mempunyai makna tersendiri dengan susunan bentuk yang ia ciptakan. Selain itu, teknik persajakan yang digunakan dengan memotong dan membalik-balikkan suku kata yang sulit kita maknai secara langsung makna dua kata tersebut yaitu sihka dan winka. Tentu saja tidak akan kita temui dua kata tersebut jika kita cari di kamus karena hal tersebut memanglah strategi dari Sutardji dalam melakukan strategi makna dalam menulis puisi-puisinya yang bisa dikatakan terbilang berbeda dari puisi-puisi yang sedang berkembang pada masanya. Kata-kata kawin dan kasih yang diputus-putus dan dibalik secara linguistik sajak tersebut tidak ada artinya, kecuali kata kawin dan kasih itu. Kata kawin dan kasih mengandung konotasi bahwa suatu perkawinan itu akan menimbulkan angan-angan hidup penuh kebahagian, terlebih bila disertai kasih sayang. Tipografi zigzag tersebut melambangkan bahwa kehidupan perkawinan adalah sesuatu yang sulit. Tata letak kata-kata dalam puisi ini dapat diartikan bahwa kehidupan yang tersirat dalam puisi ini sangat tragis dan mengalami masalah yang begitu tajamnya dan menguras emosi jika pembaca benar-benar memaknai puisi tersebut. Jika dilihat dari tingkat kemiringannya, terlihat bahwa masalah yang dialami tokoh dalam puisi semakin sulit. Bentuk gelombang tajam yang berliku-liku menunjukkan pasang surutnya kehidupan perkawinan yang semula berjalan baik-baik dan bisa dikatakan bahagia namun setelah mengalami jalan yang berlika-liku dan menempuh berbagai macam badai kehidupan berumah tangga yang berbahaya, pada akhirnya akan mengalah pada suatu tragedi yang tidak diinginkan dan membuat antara suami dan istri terpisah.

Kata kawin bermakna kebahagian, sedangkan winka mengandung makna kesengsaraan. Kawin adalah persatuan dan winka adalah perceraian. Kasih berarti cinta, sedangkan sihka berarti kebencian. Kawin dan kasih adalah sebuah kebahagian, sedangkan sihka dan winka adalah kesengsaraan dan kebencian. Bila kata kawin dan kasih menjadi winka dan sihka maka itulah tragedy kehidupan dalam sebuah rumah tangga yang tidak akan pernah sama. Roda akan selalu berputar kadang diatas kadang dibawah, kadang bahagia kadang sengsara. Tak jarang pula kita merasakan  senang tetapi juga susah, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Penting bagi kita untuk memahami puisi “Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Calzoum Bahri ini. amanat yang tersirat akan kita pahami ketika kita sudah mengtahui makna yang sebenarnya dari puisi tersebut. ***(Eka Nurtiana)

 

Iklan